Matah Ati Dipentaskan Di Solo

donyalfan

Pekerja foto komersial dan penulis konten. Pemenang Pesta Blogger Award 2009 untuk kategori blog pariwisata terbaik. Aktif di social media, senang menjelahi Solo.

You may also like...

1 Response

  1. Danny Yatim says:

    Sayangnya, jarak amtara panggung danpenonton (tiket berbayar) terlalu jauh. Saya jadi iri dengan warga Solo yang duduk lesehan, bisa menonton dekat panggung. Bagi saya yang marak duduknya jauh, bisa menikmati blocking penari yang bagus, gerakan kolosal dan permainan api yang spektakuler, tetapi justru tak menangkap nuansa emosi tariannya. Penari utama terlihat kecil mungil dari kejauhan. Tata cahaya pada awal tarian juga tidak mendukung. Saya bahkan tidak tahu Matah Ati yang mata, sulit membedakan penari laki dan perempuan. Adegan cinta di akhir pertunjukan juga jadi tidak menyentuh, karena terlalu jauh. Dan yang lebih menyebalkan adalah buku program (hari pertama) dibagikan pas adegan terakhir. Sebetulnya saya sudah kesal karena merasa sudah bayar mahal2, kok tidak ada buku program, lalu ketika bukunya ada, eh dibagikan saat pertunjukan masih berlangsung. Saya baru tahu cerita sesungguhnya saat membaca buku program di kamar hotel malamharinya.Semoga hari kedua dan ketiga jauh lebih baik. Terlepas dari kekurangan itu, suasana menonton di halaman istana sungguh mengasyikkan. Juga seluruh tarian adalah konsumsi mata dan telinga yang menyenangkan.

Tinggalkan Komentar