Stasiun Balapan, Tempat Pacuan Kuda Pada Masa Mangkunegara VII

Stasiun Balapan

Pintu masuk utama Stasiun Balapan Solo

Ning Stasiun Balapan
Kutho Solo sing dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke lungamu…
(Stasiun Balapan, oleh Didi Kempot)

Tak bisa dipungkiri bahwa lagu ‘Stasiun Balapan’ yang dipopulerkan oleh Didi Kempot itu telah membuat nama Stasiun Balapan makin terkenal di seluruh Nusantara, tak hanya di kalangan orang Jawa saja, tapi juga suku-suku lainnya. Bukan hanya itu saja, berkat lagu ini nama Kota Solo sebagai kota budaya juga makin terangkat pamornya.

Stasiun Balapan

Stasiun Balapan — mahargya Juliana-Berhard 1937 (Moltzer)

Tak banyak yang tahu, kenapa stasiun ini bernama Balapan. Kisah tentang nama Balapan sendiri sebenarnya cukup sederhana, namun sejarah berdirinya stasiun Balapan ini tetap menarik untuk disimak. Dari sini kita juga bakal tahu tentang sejarah perkerataapian di Solo.

Lahan yang sekarang menjadi Stasiun Balapan dulunya merupakan Alun-Alun Utara milik Keraton Mangkunegaran. Di dalam alun-alun itu terdapat lapangan pacuan kuda Balapan, yang berdiri sekitar tahun 1890, pada masa Mangkunegoro VII.

“Antara tahun 1890-1910, Solo sedang digalakkan terjadinya perubahan. Perubahan dari pola pedesaan menjadi pola perkotaan. Ide perubahan itu datang dari Pemerintah Kolonial Belanda,” terang Drs. Soedarmono, SU, sejarahwan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Ide perubahan ini pun direstui oleh dua kerajaan, Kasunanan dan Mangkunegaran.

Secara tidak langsung, ide-ide perubahan menuju pola perkotaan ini juga menyentuh soal sarana dan prasarana umum. Salah satunya menyangkut soal alat transportasi kereta api. Pemerintah Kolonial Belanda sudah menggagas jalur rel kereta api dari Semarang (sebagai Ibu Kota Propinsi) menuju Solo, maka Solo harus punya stasiun kereta api. Lokasi lapangan pacuan kuda Balapan dianggap paling pas untuk menjadi sebuah stasiun, karena jalur rel bisa langsung mengarah ke Semarang. Akhirnya, pacuan kuda itu diubah menjadi sebuah stasiun, dan nama Balapan tetap dipertahankan.

Stasiun-Solo-Balapan

Stasiun Solo Balapan (van Diessen, 1998)

Pada saat itu Stasiun Balapan dikelola oleh Staats Spoor (SS), dan sengaja dirancang sebagai stasiun antar kota dengan rel lebar. Lalu dikembangkan lagi jalur rel baru dari daerah-daerah di sekitar Solo menuju ke Stasiun Balapan. Jalur rel baru antar daerah ini dikelola oleh Nederland Indisch Spoor (NIS), lebar relnya sendiri lebih kecil dibanding rel milik SS. Karena jalur rel NIS ini memang diperuntukkan bagi kereta berukuran kecil yang jarak tempuhnya tidak terlalu jauh.

Menurut penuturan Soedarmono, setelah Stasiun Balapan berdiri, rel KA dihubungkan dengan stasiun-stasiun yang berada di titik-titik strategis, yakni di Purwosari, Sriwedari, dan Jebres. Stasiun-stasiun itu terhubungkan oleh rel-rel yang melewati tengah kota. Berarti pada awal abad 20, Kota Solo sebenarnya sudah memiliki alat transportasi dalam kota berupa kereta. Salah satu buktinya adalah jalur rel yang ada di tepi jalan Slamet Riyadi, jalur rel ini masih digunakan hingga sekarang.

donyalfan – telah menulis 13 tulisan di Tentang Solo.
Pekerja foto komersial dan penulis konten. Pemenang Pesta Blogger Award 2009 untuk kategori blog pariwisata terbaik. Aktif di social media, senang menjelahi Solo.

Email  • Twitter

Comments

comments

ingin meninggalkan komentar? Monggo lho!

© TentangSolo 2012
TentangSolo adalah keluarga Rumah Blogger Indonesia (#RBI)